Pengelolaan sampah rumah tangga dan pemanfaatan bahan alami dinilai dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi keluarga. Melalui edukasi kreatif dan peluncuran Bank Sampah Desa Lengkong, TP PKK Kabupaten Brebes mendorong kader PKK agar mampu mengubah kebiasaan sehari-hari menjadi kegiatan yang produktif dan bernilai ekonomi.
Kegiatan bertajuk Edukasi Kreatif Pengelolaan Sampah dan Pembuatan Minuman Herbal Alami tersebut digelar di Pendopo Kabupaten Brebes, Rabu (7/10/2026). Acara sekaligus menandai peluncuran Bank Sampah Desa Lengkong, Kecamatan Wanasari.
Baca Juga : https://kabarbrebesku.blogspot.com/2026/09/pemkab-brebes-perkuat-pengawasan-dan.html
Dipandu UPTD Pengelolaan Sampah Bumiayu, kegiatan ini membekali kader PKK dengan keterampilan memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah rumah tangga. Peserta juga diperkenalkan dengan pembuatan minuman herbal dari bahan alami serta pengolahan limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Ketua TP PKK Kabupaten Brebes yang diwakili Bidang III, Iska Yuni Dwijayanti, mengatakan Brebes memiliki beragam potensi bahan alami yang dapat dikembangkan menjadi produk olahan rumah tangga. Bawang merah, jahe, kunyit, dan berbagai rempah maupun buah lokal, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan minuman yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.
“Kalau bisa membuat sendiri, dengan bahan yang kita tahu asalnya, dengan takaran gula yang kita kendalikan sendiri, kenapa tidak?” ujarnya.
Menurut Iska, keterampilan mengolah bahan alami tidak hanya membantu keluarga memperoleh alternatif minuman, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi usaha rumahan. Produk yang awalnya dibuat untuk konsumsi sendiri dapat menjadi sumber penghasilan tambahan apabila mendapat respons positif dari masyarakat.
“Ibu yang bisa mengolah bahan alami di dapurnya sendiri, itu hebat. Kalau kemudian resepnya disukai tetangga, lalu diminta dibuatkan dan dijual, lebih hebat lagi. Ekonomi keluarga bisa terbantu, anak-anak bisa minum yang lebih sehat, dan uang belanja bisa lebih hemat,” katanya.
Di sisi lain, Iska mengingatkan bahwa persoalan sampah perlu ditangani dengan perubahan kebiasaan sejak dari rumah. Sampah yang dihasilkan setiap hari tidak seharusnya langsung dibuang tanpa melalui proses pemilahan, sebab sebagian masih dapat dimanfaatkan kembali.
“Sampah ini tidak bisa kita hindari. Setiap hari rumah kita menghasilkan sampah. Pertanyaannya, mau dibuang ke mana dan jadi apa,” tegasnya.
Ia berharap Bank Sampah Desa Lengkong tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan masyarakat yang berjalan secara konsisten dan memberikan manfaat nyata. Sebagai bentuk dukungan, Iska memberikan buku tabungan sampah kepada kader PKK agar masyarakat terdorong menabung sampah secara rutin.
“Saya berharap bank sampah ini benar-benar berjalan. Ada papan namanya, ada kegiatannya, ada manfaat ekonominya untuk keluarga,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Brebes, Asri Noviarti, menilai pengelolaan sampah dan pemanfaatan bahan alami merupakan keterampilan yang dapat dimulai dari lingkungan terdekat.
Ia mendorong kader PKK menjadi penggerak di tengah masyarakat agar praktik pengelolaan sampah dan pengolahan bahan alami tidak berhenti pada pelatihan, melainkan diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Asri juga melihat peluang ekonomi dari produk olahan rumahan. Selain membantu keluarga menghemat pengeluaran, produk yang memiliki kualitas dan peminat dapat dikembangkan menjadi usaha tambahan.
“Kalau kita bisa memanfaatkan bahan alami yang kita olah sendiri, tentu lebih hemat. Kalau kemudian produknya disukai dan bisa dijual, itu akan lebih baik lagi karena ekonomi keluarga bisa terbantu,” katanya.
Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Sampah Kabupaten Brebes, Rudi Hartono, menjelaskan bahwa bank sampah memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya. Dalam hal ini, kader PKK dinilai strategis karena dapat menghubungkan edukasi lingkungan dengan praktik langsung di tingkat keluarga.
“Kita edukasikan, kita sosialisasikan, dan kita terapkan juga terutama lewat kegiatan ibu-ibu PKK,” ujarnya.
Rudi menjelaskan, Bank Sampah Desa Lengkong nantinya dapat menerima berbagai jenis sampah nonorganik, antara lain botol plastik, kardus, besi, sandal, sepatu, pakaian, hingga kaca. Sampah yang terkumpul akan dikoordinasikan dengan pengepul melalui pendampingan tenaga fasilitator lapangan.
“Kami akan menjembatani dan mengomunikasikan dengan para pengepul yang ada di sekitar desa. Kalau tidak ada, nantinya DLH akan menyediakan penampungan untuk limbah yang tidak bisa disalurkan ke pengepul,” jelasnya.
Selain dikumpulkan untuk ditabung, sampah juga dapat diolah menjadi barang yang memiliki nilai tambah. Dalam pelatihan tersebut, peserta dikenalkan dengan pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin serta pengolahan sampah plastik menjadi tas, dompet, bunga, dan aneka kerajinan.
Sementara itu, sampah organik dapat diolah menjadi eco enzyme yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan dalam pembuatan sabun dan cairan pembersih rumah tangga sesuai formulasi dan peruntukannya.
Baca Juga : https://kabarbrebesku.blogspot.com/2026/08/brebes-bersholawat-maulid-nabi-dan.html
Rudi berharap peluncuran Bank Sampah Desa Lengkong menjadi titik awal pengembangan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Pendampingan dan pemantauan akan dilakukan untuk mendorong konsistensi kegiatan sekaligus membuka peluang pengembangan produk berbahan limbah.
“Jangan setelah launching terus adem ayem. Insyaallah kami akan monitoring dan kegiatan bank sampah ini berlanjut. Akan ada pengembangan-pengembangan selanjutnya agar limbah yang sudah tidak terpakai bisa dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai,” pungkasnya. (***)
