Kabar brebesku ( Slawi )
Besarnya anggaran kesehatan yang digelontorkan pemerintah setiap tahun ternyata belum menghentikan laju pembangunan rumah sakit swasta di berbagai daerah. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, jumlah rumah sakit milik swasta justru terus bertambah, terutama di wilayah perkotaan dan daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang berkembang pesat.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Di saat pemerintah terus meningkatkan pembiayaan sektor kesehatan melalui APBN maupun APBD, mengapa investasi rumah sakit swasta masih tetap menjanjikan dan berkembang?
Mantan Kepala Puskesmas Jatinegara, Kabupaten Tegal dr. Budi Sutrisno, S.H., M.Kes., menilai kondisi itu merupakan dampak dari meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak selalu mampu diimbangi oleh fasilitas kesehatan milik pemerintah.
“Permintaan layanan kesehatan terus meningkat. Jumlah penduduk bertambah, penyakit kronis juga semakin banyak. Sementara fasilitas kesehatan pemerintah tidak selalu bisa berkembang secepat kebutuhan masyarakat,” ujar Budi, Kamis (14/05/2026).
Menurutnya, anggaran kesehatan pemerintah tidak semata-mata difokuskan untuk pembangunan rumah sakit baru. Sebagian besar dana justru digunakan untuk pembiayaan program kesehatan masyarakat dan mendukung sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan.
Program JKN sendiri dinilai menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya jumlah pasien yang mengakses layanan kesehatan. Akibatnya, rumah sakit swasta pun ikut mengambil peran sebagai mitra pelayanan kesehatan karena kapasitas rumah sakit pemerintah masih terbatas
.
“Dengan adanya JKN, jumlah pasien yang berobat meningkat signifikan. Rumah sakit swasta akhirnya ikut menjadi mitra pelayanan karena kapasitas rumah sakit pemerintah terbatas,” jelasnya.
Meski demikian, Budi mengingatkan bahwa pertumbuhan rumah sakit swasta juga menghadirkan tantangan baru bagi sistem kesehatan nasional, terutama terkait pemerataan fasilitas kesehatan.
Ia menilai rumah sakit swasta umumnya lebih banyak dibangun di kawasan dengan potensi pasar yang besar dan tingkat ekonomi masyarakat yang tinggi.
“Di daerah perkotaan kita bisa melihat banyak rumah sakit berdiri. Tetapi di daerah terpencil atau pedesaan, fasilitas kesehatan masih terbatas. Ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam pemerataan layanan kesehatan,” katanya.
Selain pembangunan rumah sakit, Budi juga menekankan pentingnya penguatan layanan kesehatan primer seperti puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan masyarakat.
“Rumah sakit memang penting, tetapi pencegahan penyakit dan layanan kesehatan dasar tetap harus diperkuat. Kalau puskesmas kuat, beban rumah sakit juga bisa berkurang,” tambahnya.
Ia berharap pemerintah dapat menyeimbangkan pembangunan fasilitas kesehatan dengan penguatan layanan kesehatan tingkat pertama agar sistem kesehatan nasional menjadi lebih efektif, merata, dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. (***)
Tags
News